Rabu, 18 Juli 2018

Mondau dalam konteks berbagi di masyarakat Tolaki Sulawesi Tenggara



Panen padi gogo

 http://ekonomiberbagi.com/

                  Mondau merupakan istilah yang di gunakan dalam masyarakat asli sulawesi tenggara khususnya pada suku Tolaki. Pengertian Mondau merupakan kegiatan berkebun yang di mulai dari proses penyiapan lahan  sampai masa panen, mereka biasanya menanam tanaman pangan seperti Padi ladang yang saat ini mulai menghilang digantikan oleh benih padi sawah lahan kering.
Kegiatan Mondau yang dimulai dari penyiapan lahan, pembersihan lahan, penanaman, penyiangan bahkan saat panenpun dikerjakan dengan cara gotong-royong atau saling berkontribusi tenaga kerja dalam satu kelompok kecil para petani pekebun yang lahannya berdekatan.

Kegiatan gotong royong seperti ini, merupakan salah satu budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun bahkan sampai jaman now saat ini pada generasi tua. akan tetapi pada generasi mudanya kegiatan seperti ini mulai pelan-pelan menghilang dari kegiatan mereka, mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing yang banyak berhubungan dengan kegiatan di luar komunitas mereka.
Kegiatan generasi mudanya telah bergeser dari berkebun menjadi pekerja diberbagai tempat yang dapat dengan segera menghasilkan duit. mereka tidak lagi Mondau seperti orang-orang tua mereka yang setiap musim panen padi gogo, yang secara gotong royong mereka panen padi dilahan salah satu kerabatnya.
Kegiatan Mondau dengan cara gotong royong seperti dahulu dan sekarang di beberapa tempat masih di jumpai di daratan sulawesi tenggara , pada lahan-lahan mereka yang masih tersedia. akan tetapi cara mondau tidak lagi dengan berpindah-pindah dari satu kawasan hutan ke kawasan hutan lainnya yang masih tergolong Hutan negara. Mereka telah menetap mengolah lahannya sekalipun masih menggunakan sistem Mondau yang masih mereka anggap sebagai cara-cara "Berbagi ekonomi" bukan seperti pengertian " Share economy " yang sedang trend saat ini.
Mondau merupakan kegiatan berbagi tenaga, berbagi pengetahuan dan berbagi manfaat saat panen hasil kebun mereka secara langsung. konsep berbagi bagi mereka bukan menunggu aplikasi, tetapi secara langsung dan secara kekeluargaan.
Konsep berbagi seperti ini mungkin akan segera punah dari peradaban masyarakat suku Tolaki, jika generasi tua tidak lagi dapat menurunkan secara benar kepada generasi mudanya yang cenderung menganut paham ekonomi liberal , dan praktis. Kecenderungan generasi mudanya saat ini adalah Instan, hari ini bekerja hari ini dapat uang, mereka tidak lagi melihat proses dan belajar dari proses yang dilakukan oleh generasi tua mereka.
Generasi tua di anggap ketinggalan jaman, dan generasi muda mengikuti Jaman menurut mereka. Tanpa mereka sadari bahwa kearifan-kearifan lokal ini sebentar lagi menghilang dari peradaban masyakarat suku tolaki yang terkenal suka bergotong royong dalam kehidupan mereka.
hari ini bahkan bahasa-bahasa lokal mereka telah mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya, yang cenderung merasa canggung menggunakan bahasa daerah pada pertemuan-pertemuan non formal.

Semoga generasi muda masyarakat suku Tolaki saat ini dan masa yang akan datang masih dapat menggunakan sebahagian tradisi-tradisi dan budaya mondau yang merupakan cara Ekonomi berbagi yang sedang trend dewasa ini.



Sekedar share, semoga bermanfaat

Jumat, 13 Juli 2018

Potensi Kelapa yang terabaikan

            
Memasuki perbatasan kabupaten Sorong-Tambrauw di provinsi Papua Barat, pohon-pohon kelapa menjulang tinggi seakan memanggil sang petaninya untuk datang memanennya. Di distrik Sausafor sebagai ibukota sementara kabupaten Tambrauw, pohon-pohon kelapa berderet dikiri kanan jalan, dan di kompleks perkantoran tampak tunggak-tunggak kelapa masih tersisa menandakan bahwa kompleks ini awalnya merupakan kebun-kebun kelapa milik masyarakat distrik Sausafor. 
demikian pula potensi buah kelapa di kampung Hopmare, seakan tidak memiliki nilai, dibawah pohon kelapa, buah kelapa dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya, bahkan banyak ditemukan telah tumbuh dan membentuk pohon kelapa. beberapa alasan beberapa pemilik pohon kelapa membiarkan buah kelapa bertebaran di bawah pohon, kelapa mereka adalah Harga jual buah kelapa yang ada di kampung hopmare sangatlah rendah....

Wisata Pantai di laut Pasifik yang menggiurkan dan menghawatirkan




               Hampir sebahagian besar pesisir pantai di Sorong Raya, bahagian utara memiliki pemandangan indah nan menakjubkan bagi penggemar wisata, betapa tidak, hamparan pasir yang memanjang dari distrik Kwoor sampai dengan Werur, mengingatkan kita akan pantai Sanur yang indah nan menawan di pulau bali.  Pantai ini berada di kabupaten Tambrauw pemekaran dari kabupaten Sorong, keindahan pantai pasir yang mengandung pasir besi, telah menambah daya tarik bagi investor untuk melakukan penambangan pasir besi di sana. Hamparan pasir besi dari distrik Kwoor sampai dengan kampung Hopmare panjangnya kira-kira 15 Km, yang merupakan potensi wisata pantai yang menarik bagi para pelancong domestik dan internasional.
Keberadaan pantai pasir ini telah diketahui oleh banyak pihak, yang telah berkunjung di sana sayangnya fasilitas penunjang kepariwisataan khususnya di distrik Kwoor belum ada, di tambah lagi akses jalan dan sarana transportasi dari dan menuju ke lokasi wisata pantai di distrik Kwoor belum memadai, dan bagi pelancong domestik dan internasional belum memperoleh informasi secara detail keberadaan pantai ini.
Pantai ini berhadapan langsung dengan laut Pasifik di utara provinsi Papua Barat, sekaligus sebagai benteng terakhir perbatasan Indonesia dengan negara-negara Pasifik, hamparan pasir besi ini menjadi tempat bertelurnya penyu belimbing dan burung maleo yang sering di temukan oleh warga masyarakat yang bermukim di daerah pesisir seperti kampung Hopmare, di distrik Kwoor kabupaten Tambrauw.
Keberadaan penyu dan burung maleo dipesisir pantai ini sering kali mendapat gangguan dari masyarakat setempat, yang memungkinkan semakin berkurangnya populasi mereka. bahkan terancam punah dari bumi Tambrauw.
Untuk mencegah kepunahan kedua jenis satwa ini, maka upaya penangkaran dan sosialisasi kepada masyarakat pesisir perlu dilakukan oleh pemerintah setempat, dan para pihak pemerhati satwa-satwa endemik agar tidak membunuh penyu dan merampas telur burung maleo yang sering bertelur di pesisir pantai.
Ancaman lain yang paling membahayakan keberadaan satwa ini, adalah potensi pasir besi yang membuka peluang bagi investor untuk memanfaatkan sebagai bahan baku pabrik Besi baik yang ada di Indonesia maupun untuk memenuhi kebutuhan pabrik di Negara lain.
Potensi ancaman ini, bukan hanya untuk satwa saja, namun masyarakat pesisir pun akan terancam keberadaan tempat tinggal mereka. Dampak lain yang akan terjadi adalah kerusakan lingkungan yang menyebabkan  pencemaran laut, yang akan mengganggu biota laut yang ada disekitar laut pasifik.

Selasa, 10 Juli 2018

Kampung bawang di Dusun Sipate





                Sipate, merupakan nama salah satu dusun di Desa Pekalobean Kec. Anggeraja berada di kaki gunung Anggeraja, yang merupakan patahan gunung Lakawan deretan pegunungan Bambapuang. Di kaki gunung ini di penuhi tanaman budidaya bawang merah dan berbagai sayuran segar untuk memenuhi kebutuhan pasar Endrekang ( cakke, suddu/ blajin dan baraka), sebahagian besar di kirim keluar daerah seperti kendari, Manado dan kalimantan melalui pelabuhan pare-pare, makassar dan bajoe.
Kecamatan Anggeraja, merupakan penghasil bawang terbesar di kabupaten endrekang bahkan pada tingkat Indonesia bahagian timur, endrekang masih merupakan penghasil bawang nomor satu.Jika kita menelusuri lereng pegunungan di kecamatan Anggeraja, maka pastilah kita menemukan hamparan bawang merah, jagung dan sayuran lainnya yang menjadi tumpuan harapan pendapatan bagi sebahagian besar warga masyarakat.
Dalam budidaya tanaman bawang merah, para petani telah menggunakan teknologi modern di mana lahan-lahan budidaya mereka telah menggunakan hujan buatan. Teknologi yang mereka gunakan membutuhkan biaya yang tidak sedikit di mana setiap 100 kg bibit bawang, seorang petani bawang harus menyiapkan dana sekitar Rp.12.000.000,- biaya ini dipergunakan untuk pembelian bibit, obat-obatan ( pestisida), upah kerja penyiapan lahan serta perawatan tanaman bawang merah, sampai biaya panen bawang mereka.
Tanaman bawang merah yang dibudidayakan oleh petani di anggeraja dapat di panen pada umur 56 hari ( sumber informasi “Yusuf hafid”) pendamping lokal desa dari kecamatan Anggeraja ( Desa Bambapuang, Desa Tindalun, Siambo serta Desa Singki ).
Di kaki gunung Bambapuang dan Gunung Nona, hampir merata hamparan tanaman bawang merah, jagung, tomat, ubi jalar dan sayuran lainnya. Masyrakat mebudidayakan tanaman tersebut, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, akan tetapi telah menjadi komoditi perdagangan yang melayani kebutuhan regional dan Nasional khususnya kawasan Indonesia timur dan tengah, para petani tidak lagi memikirkan di mana mereka akan jual, namun hasil-hasil produksi mereka di jemput langsung oleh pembeli- pembeli dari luar daerah seperti kendari, manado, dan Kalimantan untuk skala produksi yang banyak, untuk sisa produksi dari penjualan, para petani menjual langsung ke pasar-pasar tradisional yang ada di Endrekang.


Kehidupan Sosial - Budaya :
                Secara umum, masyarakat Anggeraja, merupakan satu rumpun suku asli yang mendiami endrekang yakni suku bugis endrekang yang memiliki ciri khas dialek dan bahasa yang sedikit berbeda dengan bugis Bone dan makassar.
Khusus daerah endrekang yang berbatasan langsung dengan kabupaten tana toraja dialek dan bahasa masih ada kemirpan dalam bahasa sehari-hari.
Dalam Interaksi Sosial, masyarakat Anggeraja masih sangat kental kekerabatannya, di mana hampir seluruh warga kecamatan anggeraja masih ada hubungan kedekatan keluarga dengan desa-desa yang bertetangga, sehingga  masalah-masalah sosial dan konflik antar masyarakat dengan mudah dapat diatasi dan diselesaikan secara kekeluargaan.
Dari segi kerja-kerja bersama atau gotongroyong, pemerintah dan tokoh masyarakat termasuk tokoh adat dengan mudah menggerakan masyarakat untuk kerja-kerja sarana kepentingan umum yang ada di sekitar wilayah atau desa tempat tingggal mereka, bahkan untuk kerja-kerja penyiapan lahan, penanaman, dan panen mereka bahu-membahu saling membatu satu sama lain. Bagi mereka yang tidak pernah ikut kerja-kerja gotong royong, maka akan membayar mereka yang datang membantu saat panen di kebun miliknya.
Sebagian besar masyarakatnya, masih sangat kental mempertahankan budaya tradisional yang diturunkan secara turun temurun dari para leluhur mereka, seperti adat perkawinan, tradisi syukuran setelah panen, acara-acara keagaman menurut Islam seperti Hakikah (anak yang baru lahir), tahlilan juga masih dilakukan oleh sebahagian masyarakat Anggeraja.
Perkembangan Masyarakat Adat :
               Kabupaten endrekang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang sangat peduli dengan perkembangan Masyarakat Adat, di mana terdapat 37 Komunitas adat yang sudah teridentifikasi dan terdaftar sebagai komunitas Adat endrekang secara umum. Dari 37 komunitas Masyarakat adat yang ada 22 Komunitas Adat telah menjadi Anggota Aman Pasendepulu Endrekang. Enam komunitas adat telah di SK kan pengakuannya oleh Bupati Endrekang, Perda Masyarakat Adat juga telah ada di Kabupaten Endrekang. Komunitas Masyarakat adat yang ada di endrekang tersebar hampir merata di seluruh wilayah kabupaten endrekang yang dikawal langsung oleh pengurus Daerah AMAN Maspul ( Masyarakat Adat Massendrenpulu ).
Pengurus Daerah Aman Massendrenpulu endrekang di pimpin langsung oleh H. Paundanan Embong Bulan, SH, di bantu oleh staf Aman Endrekang dari berbagai latar belakang pendidikan yang konsen menjaga marwah masyarakat Adat, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Adat di tanah Endrekang.
Kerja-kerja kolaborasi dari para pihak dalam mendukung keberadaan komunitas Masyarakat Adat di Enrekang telah dilakukan oleh beberapa pihak OPD seperti P3MD,bekerjasama dengan PD AMAN Massenrenpulu, di mana para pendamping Lokal Desa terlibat secara aktif dalam memfasilitasi pembentukan dan pendampingan masyarakat Adat.
Dukungan dari pemerintah Kabupaten Endrekang terhadap pengembangan keberadaan Masyarakat Adat sangat nampak dan dibuktikan secara rill oleh Pemerintah Kabupaten untuk terus memfasilitasi PD Aman enrekang dalam mewujudkan Perda pengakuan Masyarakat Adat yang diajukan oleh Pengurus Daerah Aman Endrekang.
Sumber : Yusuf Hafid 07-07-2018 di rumah Aman Endrekang.http://ekonomiberbagi.com/

Mandatte diantara Gunung Nona dan Gunung Bambapuang



Mandatte diantara Gunung Nona dan Gunung Bambapuang
              Mandatte puncak Kenangan, kampung mandatte merupakan salah satu kampung yang berada di wilayah Desa Mandatte, kecamatan Anggeraja kabupaten Enrekang, prov.Sulsel. Mandatte berarti tempat yang rata di puncak kenangan jalan menuju tator dari endrekang, kampung ini berada di km 15 dari kota endrekang atau 2 Km dari pasar sentral Cakke Kampung ini merupakan kampung persinggahan bis-bis besar dari kabupaten tana toraja, dan Palopo. Penumpang bis dari tator dan palopo secara rutin akan singgah di kampung mandatte, tidak hanya untuk membeli oleh-oleh khas Endrekang dan makan, tapi yang lebih penting mereka dapat melihat view pemandangan hamparan petani bawang merah yang berada di lembah kaki gunung Nona yang sangat  menawan, disana pada musim tanam akan menampakan hamparan hijau muda daun bawang merah, dan ketika musim panen akan menampakan pemandangan nan indah sebaran terpal merah muda menandakan bahwa di bawah sana ada kegiatan pengeringan bawang di bawah tenda terpal.
           Kegiatan petani bawang merah di lembag gunung nona, telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para penumpang dari makasar menuju tana toraja, sehingga bagi masyarakat Enrekang melihat sebagai peluang untuk membuka usaha rumah makan dan oleh-oleh, berjejer hampir di sepanjang jalur jalan menuju tana toraja dan palopo yang berada di wilayah kampung mandatte. Kampung mandatte telah mulai di kenal oleh para penumpang dan sebahagian wisatawan yang menuju ke tana toraja dan palopo.
Sekilas tentang Gunung Nona dan gunung Bambapuang.
Gunung nona merupakan hamparan pegunungan yang berada di sebelah timur jalur jalan menuju tana toraja dan palopo, penamaan gunung nona bukanlah sekedar penamaan saja, atau di sana ada kayu nona yang tumbuh akan tetapi menurut masyarakat di sana, penamaan gunung Nona di ambil dari bentuk alat kelamin perempuan yang sedang tidur mengangkang jika di lihat dari atas jalan menuju palopo, dan tana toraja.
Bambapuang, merupakan kawasan pegunungan batu kapur / Karst yang berada disisi kiri jalan menuju tana toraja dan palopo yang memanjang sepanjang Lk 5 Km, mulai dari kampung mandatte menuju  kampung cakke kecamatan Anggeraja, kabupaten Endrekang. Hamparan pegunungan ini menjulang tinggi lebih tinggi dari puncak gunung nona yang saling berhadapan, kedua gunung ini terletak di mandatte yang saling berhadapan, keduanya dipisahkan oleh Jalan trans sulawesi dari kota makasar ke kota kabupaten tana toraja dan palopo.
Di kaki gunung bambapuang, juga sebahagian telah ditanami bawang merah, sayuran dan jagung, dan di sekitar kiri kanan jalan berjejer rumah penduduk untuk tempat berjualan yang menyediakan hidangan menu makanan dan oleh-oleh khas Endrekang. Salah satu oleh-oleh khas endrekang adalah penganan “Deppa Tetekang” berbahan baku tepung beras, gula merah dan wijen.
Mujizat atau Ancaman
             Keberadaan kedua gunung ini di pandang sebagai mujizat oleh sebahagian masyarakat, dimana menciptakan suhu udara yang dingin, tanah  yang subur serta cocok untuk tempat budidaya bawang merah, kubis dan kentang serta sayuran segar yang belum tentu dapat tumbuh di tempat lain.
Akan tetapi, kondisi ini dapat menjadi ancaman tanah longsor bagi warga masyarakat yang bermukim dilereng dan di kaki gunung jika tidak segera ada upaya dini untuk upaya mitigasi bencana tanah longsor yang dilakukan secara bersama oleh pemerintah, masyarakat dan NGO atau AMAN Endrekang, sebagai salah satu pemerhati lingkungan saat ini.
Ancaman tanah longsor dapat saja terjadi sewaktu-waktu di saat kemampuan tanah dalam menahan beban air permukaan di ambang batas toleransi, sehingga memungkinkan pergeseran tanah dari puncak dan lereng bergeser ke tempat yang lebih rendah.
Dari pengamatan lapangan, hampir sepanjang lereng pegunungan bambapuang, pegunungan Nona dan pegunungan palayan telah ditanami tanaman bawang merah dan sebahagian telah digunakan sebagai tempat pemukiman penduduk, lereng-lereng gunung ini hanya di topang oleh bongkahan-bongkahan batu, yang sekaligus menjadi pematang seperti layaknya pematang sawah.
Pohon-pohon yang dahulu  tumbuh dan menjadi penahan air dan tanah dilereng-lereng gunung telah sirna menjadi bahan bangunan warga masyarakat, dan juga sebahagian di gunakan untuk kayu bakar oleh penduduk yang menyebabkan menurunnya daya dukung lahan dalam mempertahankan kerentanan dari erosi dan banjir.
Ancaman tanah longsor bagi masyarakat lereng gunung Anggeraja di perkuat lagi dengan kondisi lapangan di mana lahan-lahan budidaya tanaman bawang bak penampungan air untuk menyirami tanaman bawang mereka. Pada musim penghujan kemungkinan aliran air permukaan pada lahan-lahan budidaya sangat tinggi dan dapat menyebabkan tanah longsor, dan menimbun daerah pemukiman penduduk di bawahnya.
Upaya pencegahan
             Kiranya ancaman tanah longsor bagi warga anggeraja, menjadi pintu masuk untuk menggerakan kerja-kerja kolaborasi dalam upaya pencegahan tanah longsor sejak dini, dengan mulai melakukan penanaman tanaman kayu-kayuan yang berfungsi dapat menahan air permukaan pada batas-batas lahan antar milik warga. Mengurangi penebangan pepohonan di puncak gunung dan lereng-lereng gunung, serta penebangan kayu untuk kebutuhan kayu bakar masyarakat. Untuk memulai kerja kolaborasi pencegahan banjir, PD Aman Endrekang dapat memulainya dengan bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Endrekang, sehingga bencana tanah longsor dapat dicegah sedini mungkin.

Rabu, 04 Juli 2018

Ekonomi Berbagi dalam konteks masyarakat Adat

http://ekonomiberbagi.com/          Dalam perjalanan saya menuju kabupaten tambrauw, provinsi papua barat saya terkesima melihat pemandangan alam pegunungan yang hijau dipenuhi pohon-pohon nan tinggi menjulang ke angkasa di kiri kanan jalan dari sorong- ke tambrauw. sesekali kami menjumpai pemandangan pemukiman penduduk yang tertata seperti pemukiman ala pemukiman Perumnas dan BTN, namun tidaklah sepadat dan seramai perumnas.
Dan kami juga menjumpai kawasan hutan yang telah terbuka luas, yang diiringi suara mesin gergaji yang mengaum ditengah kawasan hutan secara serempak seperti sedang menyanyikan lagu penghancuran. Dan di kiri kanan jalan terlihat tumpukan-tumpukan kayu Merbau hasil olahan yang indah menawan siap diangkut menuju industri pengolahan kayu di kota sorong sesuai pengakuan sang Sopir yang mengantar kami ke Tambrauw.
dalam perjalanan kami, juga melewati jalur jalan yang terjal, licin dan berlumpur dengan pemandangan kendaraan sedang berjuang melewati jalur jalan terjal, sedikit saja lengah maka kendaraan bisa terjerambab dilembah terjal nan dalam.
Lepas dari jalan terjal kami juga menjumpai kebun-kebun milik warga masyarakat setempat secara sporadis dengan jarak antara kebun lainnya saling berjauhan kira-kira 500 m dengan luas jika dihitung mungkin hanya 1/4 ha, kebun-kebunnya ditanami sayuran, keladi dan ubi kayu secara serampangan dengan model tumpang sari. akan tetapi beberapa sisi jalan juga terhampar tanaman-tanaman pisang berbagai jenis tanpa ada yang menjaga dan bahkan rumahpun tidak kami temukan disekitar tanaman pisang masyarakat.
saya bertanya kepada sang sopir, tentang tanaman-tanaman pisang yang banyak kami jumpai, ternyata tanaman-tanaman pisang tersebut sengaja ditanam oleh masyarakat sekitar dengan maksud agar proses pengangkutan dari pohon pisang ke kendaraan angkut tidak lagi memakan biaya pikul saat mereka hendak menjual buah pisangnya.
tetapi jika ada masyarakat yang membutuhkan untuk konsumsi baik masyarakat adat maupun masyarakat luar dibolehkan untuk menebang dan memanfaatkan untuk konsumsi saja.dengan catatan rumpun pisang yang di panen dibersihkan gulmanya.

Peraktek Ekonomi berbagi dalam lingkup masyarakat adat dan lokal ;

          Sejak jaman dahulu, manusia hidup dan berkembang menempati suatu wilayah yang memiliki sumber daya penghidupan telah berinteraksi antar sesama komunitas dan antar komunitas yang berdekatan satu sama lainnya. mereka telah mulai berbagi hasil buruan, berbagi hasil ramuan, serta berbagi pengalaman dan pengetahuan untuk terus bertahan hidup dan berkembang, mereka telah mengenal dan memerapkan kerja-kerja bersama dalam hal berburu, meramu bahkan untuk membangun tempat tinggal mereka bahu-membahu mengerjakannya. Aturan-aturan kehidupan mulai disepakati sebagai aturan minimal yang harus dipatuhi semua orang dalam lingkup komunitasnya, selanjutnya berkembang menjadi aturan bersama antar komunitas yang secara konsisten dijaga dan dilestarikan sampai jaman now. Praktek-praktek berbagi kebutuhan pangan, telah mereka terapkan yang hari ini di kenal dengan istilah berbagi manfaat dalam istilah kekinian Berbagi Ekonomi.
          Dalam konteks ekonomi berbagi, bagi masyarakat adat dan lokal telah tumbuh dan berkembang tanpa teknologi informasi seperti sekarang ini, mereka mengandalkan aturan tidak tertulis sebagai platform bersama dalam kegiatan ekonomi mereka, hak kepemilikan bersama lebih ditonjolkan dibanding kepemilikan personal dalam penguasaan Sumberdaya alam, mereka rela berbagi dengan anggota komunitas lainnya. Praktek-praktek ekonomi berbagi dalam lingkup masyarakat adat dan lokal mulai terganggu dengan hadirnya modernisasi yang menganggap bahwa model-model ekonomi berbagi yang dilakukan oleh masyarakat adat tidak dapat berlaku universal, dan mulailah praktek monopoli dilakukan oleh para penjajah. Monopoli penguasaan sumberdaya alam oleh para pemodal melalui kegiatan invasi dan penjajahan tidak dapat dielakkan oleh masyarakat adat dan lokal yang hidup tentram dan damai. maka bersamaan dengan masuknya modernisasi menurut penjajah, perlawanan dari masyarakat adat pun mulai dilakukan untuk mengusir para penjajah di tanah mereka.
       Sayangnya dengan keterbatasan persenjataan maka perlawanan-perlawanan pun mampu dihancurkan oleh penjajah bahkan sampai pada kearifan-kearifan Ekonomi berbagi dari masyarakat adat ikut pula dimusnahkan, akan tetapi budaya dan tradisi berbagi ekonomi dari masyarakat adat dan lokal telah tertanam dalam lubuk hati setiap orang dari masyarakat adat, maka sampai saat ini masih kita jumpai dan menjadi bahan-bahan pembelajaran bagi para peneliti yang  mencoba mengurai fenomena konsep ekonomi berbagi yang sedang trend sekarang ini.
Ekonomi berbagi sebenarnya bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja di dunia tanpa batas ini, dia telah lama bermukim di hati sanubari leluhur kita, dan diturunkan secara turun temurun kepada generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya mempelajarinya, lalu mencoba menirunya dan menganggap hal baru ini sebagai konsep murninya.padahal masyarakat adat telah mempraktekkannya sejak dulu.
          Dalam praktek ekonomi berbagi di masyarakat adat, disana ada rasa dan karsa dan tanpa perhitungan nominal rupiah dan batasan minimalnya, mereka saling mendukung dan secara proporsional mereka berbagi. tidak terkecuali yang miskin sama sekali, jika berada dalam satu komunitas maka mereka akan ikut menikmatinya, mungkin yang mereka bagikan adalah tenaga mereka, dan itu di anggap sebagai kontribusi mereka dalam penerapan ekonomi berbagi. Lain halnya konsep ekonomi berbagi dalam dunia tanpa batas ini, disana ada nominal yang harus di bagi di awal untuk ikut dalam sebuah komunitas ekonomi,  dan dana awal ini menjadi pintu masuk untuk mengkases berbagi keuntungan dan manfaat. di sana ada sejumlah asset yang harus dikutsertakan sekaligus kepemilikannya masih ditangan pemilik awal, bukan di tangan pemilik ide atau pemilik aplikasi. di dunia tanpa batas, mereka hanya berinteraksi melalui dunia maya, tanpa secara fisik berinteraksi, di sana hanya platform yang menjadi pengikatnya. Sementara di lingkungan masyarakat ada proses panjang yang memang membutuhkan interaksi sosial sehingga menimbulkan rasa saling percaya dan rasa peduli.
Di dunia maya, soal-soal sosial kemasyarakatan bukanlah hal yang utama, yang penting adalah platform yang ditawarkan pemilik Aplikasi, maka itulah yang harus di ikuti, dan dilaksanakan secara bersama pula. jika suatu saat ada perubahan platform dari pemegang aplikasi maka, pendapat dari peserta atau netizen bukanlah menjadi dasar pertimbangan, di sana ada monopoli pendapat dan pendapatan, sementara di masyarakat, akan selalu ada pembicaraan yang memerlukan waktu dan tempat. Mungkin ini pula yang menyebabkan ekonomi berbagi dalam komunitas adat tergerus oleh masuknya ekonomi berbagi dalam konteks dunia maya. akan tetapi saya percaya, bahwa ekonomi berbagi yang sedang trend saat ini merupakan titik balik dari sebuah siklus konsep ekonomi yang terus-menerus mengalami perubahan dari satu titik kembali ke satu titik, sekalipun dengan penampilan yang berbeda. di sana selalu terjadi perbaikan dari setiap tahapan, tergantung siapa, generasi mana dan jaman apa yang  melakukannya.
Kelemahan-kelemahan ekonomi berbagi dari masyarakat adat dan lokal, salah satunya belum di manage dan diaktualkan dalam platform secara tertulis, namun kelebihannya adalah mereka mampu menciptakan suatu sistem ekonomi yang dianggap terbelakang, namun akhirnya digunakan lagi.
Kelemahan-kelemahan ini, dipandang sebagai peluang bagi generasi milenial saat ini untuk memperoleh keuntungan finansial yang cukup besar, aktifitas semu di bidang ekonomi bermunculan sebagai aktifitas ekonomi, dan berhasil melampaui ekspektasinya, sementara generasi tua memandang remeh temeh dari usaha generasi milenial saat ini yang banyak menghabiskan waktunya di depan komputer. padahal mereka menghasilkan pendapatan dari usaha aplikasi hasil produksinya.
             Kesadaran generasi tua, dan masyarakat adat saat ini memaksa mereka untuk mengikuti trend perubahan sekalipun dengan tertatih-tatih berusaha keras mempelajarinya, ada yang berhasil ada pula yang gagal di awal, dan yang gagal di awal ini banyak menyalahkan kemajuan saat ini, generasi milenial saat ini.