Sabtu, 21 Juli 2018

Anak umur 4-5 tahun mengungkap rasa sayang kepada orang tua dengan Gambar

Ungkapan anak umur 4,5 tahun kepada orang tuanya

Inilah cara anak mengungkap perasaan kepada Orang Tuanya :
Anak-anak di jaman now, semakin pandai menyampaikan pesan dengan caranya sendiri, ada yang dengan ucapan namun ada pula dengan gambar seperti di atas. Entah siapa yang mengajari mereka tapi itulah fakta bahwa seorang anak kecil menyampaikan pesannya melalui gambar yang dia gambar sendiri.

Anak ini baru saja memasuki umur 4,5 tahun yang tinggal jauh dari perkotaan, namun telah mencoba menuangkan ide kreatifnya melalui gambar yang di buat sendiri. beberapa gambar yang dihasilkan di simpan dengan rapi lalu saat ada kawannya yang berkunjung dengan senangnya menunjukan beberapa gambar yang di buatnya. dan gambar yang yang berkesan adalah gambar kue ulang tahun yang disampaikan kepada orang tuanya.

Mungkin ide ini di pengaruhi oleh media tv yang telah ikut membentuk pola pikir anak-anak yang sedang memasuki usia TK, atau mungkin juga di pengaruhi oleh proses belajar yang di peroleh di sekolah TKnya. Padahal banyak anak-anak seusianya bahkan yang lebih tua belum tentu dapat mewujudkan ide-ide kreatif seperti anak ini.

Anak ini bernama Ina Apriyani Amal yang sehari-hari belajar di TK Kuncup pertiwi, konawe selatan Sulawesi Tenggara Indonesia yang merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. dalam aktifitas sehari-hari kegiatan mengambar merupakan kegiatan rutinnya, bahkan ketika di ajak ke kota, semua peralatan alat tulis dan buku gambar selalu di bawa serta.

Mungkin saja anak-anak seusianya masih lebih banyak yang pandai menggambar bahkan dengan gambar yang lebih bagus, akan tetapi ide mengungkap ucapan ulang tahun kepada orang tuanya hanya segelintir anak yang mampu menyampaikannya.
Sayangnya anak-anak seusia mereka seringkali tidak diperhatikan oleh orang tua dan para guru-gurunya sehingga bakat menggambar dari anak-anak didik mereka tidak dapat di kembangkan.
Padahal dengan menggambar mulai dari kecil akan membiasakan anak-anak mereka mencari ide kreatif yang mungkin saja dari mereka akan lahir pelukis-pelukis muda berbakat.

Semoga para guru dan orang tua murid tidak memandang anak-anak berbakat menggambar sebagai kesia-siaan.

Sekedar share , semoga bermanfaat.........
http://ekonomiberbagi.com/




Jumat, 20 Juli 2018

Kepiting bakau di Teminabuan-Sorong Selatan Papua Barat

Kepiting bakau di pasar teminabuan sorong selatan
              http://ekonomiberbagi.com/Di beberapa daerah di wilayah Indonesia keberadaan kepiting bakau semakin sulit di temukan di pasar-pasar tradisional, biasanya kepiting bakau langsung di antar pada pedagang antar pulau di ibukota provinsi. Akan tetapi di kabupaten Sorong Selatan tepatnya di kota Teminabuan, kepiting bakau masih kita temukan di pasar-pasar tradisional dengan harga jual yang terjangkau oleh masyarakat umum. ketersediaan kepiting bakau ini menandakan bahwa kondisi hutan mangrove yang ada di Sorong selatan masih bagus dan belum terganggu oleh upaya pembuatan tambak-tambak udang seperti di Sulawesi pada umumnya dan pulau Jawa.
Kepiting bakau yang di jual di sorong-selatan merupakan hasil tangkapan para nelayan yang bermukim di sekitar pesisir hutan mangrove, mereka dengan mudah memperoleh kepiting bakau di hutan-hutan mangrove yang ada disekitar rumah mereka, mereka tidak harus berhari-hari mencari untuk memperoleh beberapa ekor kepiting yang selanjutnya di jual di pasar-pasar tradisional yang ada di sorong selatan.
Hutan bakau yang ada di sorog selatan dapat bertahan dari kerusakan karena peran masyarakat adat yang ada disorong selatan masih berfungsi dengan baik, dan mereka selalu melakukan kontrol terhadap kawasan hutan mangrove yang ada diwilayah adat mereka.
Menurut pengurus Dewan adat Sorong Selatan Arkilaus Kladit, mengatakan bahwa dewan adat sorong-selatan sangat aktif dan memperhatikan kondisi lingkungan baik di hutan alam maupun di hutan mangrove, mereka tidak segan-segan melakukan pengusiran kepada warga yang berupaya merusak hutan adat mereka.
Peran pengurus masyarakat adat di sorong selatan patut menjadi contoh bagi dewan adat lainnya yang ada di tanah papua untuk terus menjaga dan mengelola wilayah adat mereka dari upaya pengrusakan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Potensi kepiting bakau yang ada di sorong selatan dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat adat, jika di kelola dengan baik dan berkelanjutan. Pengelolaan berkelanjutan dapat dilakukan dengan kerja-kerja multipihak antara masyarakat, pemerintah dan NGO sehingga potensi hasil hutan bukan kayu pada kawasan hutan mangrove terkelola dengan lestari.
kondisi mangrove di teminabuan sorong selatan
dari penelusuran saat kami berada di sana, terdapat beberapa potensi ancaman bagi kerusakan hutan mangrove, di mana ada pemukiman penduduk di pinggir sungai yang menggunakan bahan bakar kayu untuk memasak dan bahan bangunan rumah tinggal mereka. Olehnya itu ada baiknya pihak pemerintah setempat dan pengurus masyarakat adat sorong selatan secara bersama-sama mencari solusi terbaik untuk meminimalisir kerusakan hutan mangrove. Demikian pula bagi NGO pemerhati lingkungan dan masyarakat kiranya dapat berkolaborasi dengan pihak-pihak terkait di sorong selatan untuk upaya pencegahan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Sekedar share semoga bermanfaat....

Kamis, 19 Juli 2018

Cara menyemai biji Kurma menjadi Bibit




Dewasa ini banyak kawan-kawan petani bahkan para pensiunan PNS sedang tertarik untuk mengembangkan Kurma sebagai tanaman yang akan dibudidayakan di lahan-lahan mereka. Ketertarikan ini bukan tidak beralasan , ternyata Petani Thailand telah berhasil memanen buah kurma dari kebun mereka dan menjualnya di Indonesia sebagai pasar yang paling potensial di Asia. Namun karena keterbatasan modal untuk membeli bibit dan keterbatasan pengetahuan cara pembuatan bibit maka impian untuk menanam tanaman kurma belum dapat dilaksanakan.
Mencermati kegalauan kawan-kawan, saya mencoba membeli buah kurma dipasaran, selanjutnya setelah biji kurma bersih dari daging ( setelah di makan hehe) saya mulai mempraktekan sedikit pengetahuan saya untuk menyemai biji Kurma tersebut,
Caranya :
1. Bersihkan biji kurma dari daging dengan cara mencuci biji dengan air bersih, lalu rendam kedalam wadah plastik atau botol bekas air mineral selama 5 hari. akan tetapi setiap hari harus diperiksa di kocok lalu airnya di ganti dengan air bersih.
2. Biji yang telah bersih di masukan ke dalam wadah transparan yang dilapisi dengan tissuem selanjutnya di tutup dan di simpan di tempat yang aman dan mudah dijangkau untuk pemeriksaan.
3. Setelah biji kurma mengeluarkan bintik putih pada bagian belakang, selanjutnya dibiarkan sampai membentuk akar sepanjang 2-3 cm.
4. biji yang telah  membentuk akar di pindahkan ke dalam
polybag yang telah disiapkan sebelumnya dengan komposisi media : sekam bakar ; pasir dan tanah  perbandingan 1 : 1 : 1 ; polybag ini telah di isi selama 1 minggu.
5. selanjutnya biji kurma yang telah di benamkan di dalam polybag di sungkup dengan plastik bening agar tidak terganggu dengan serangga pengganggu dan suhu dipertahankan.
Biji kurma yang telah bersih di masukan di wadah
biji yang telah tumbuh 

Biji kurma telah tumbuh dgn tunas di polybag
Setelah biji Kurma tumbuh di polybag maka selanjutnya dilakukan penyiraman setiap 2 hari sekali dengan catatan tunas tidak terkena percikan air. untuk menghindari semut dan rayap sebaiknya di sekitar polybag di bersihkan dan di taburi dengan pembasmi serangga seperti Furadan 3G.

Untuk membuat bibit yang unggul sebaiknya menggunakan biji dari Kurma Tropis seperti yang dikembangkan di Tailand.
Demikian cara mudah menyemai biji sampai tumbuh di polybag, semoga bermanfaat dan menginspirasi kawan-kawan.

Salam sukseshttp://ekonomiberbagi.com/

Kopi Arabika di Hutan Pinus Wilayah Adat Marena Enrekang

Tanaman Kopi Arabika tumbuh subur pada ketinggian 800-1200 mdpl dan menghasilkan biji-biji kopi yang memiliki aroma tersendiri menyaingi kopi Tana toraja. Petani kopi enrekang di desa Pekaleboan kecamatan Anggeraja telah membudidyakan kopi sejak 3 generasi yang lalu, mereka telah paham secara teknis budidaya dan paska panen, di mana beberapa biji kopi yang kami temukan saat di sana telah dipetik merah, lalu digiling untuk mengeluarkan kulit luar, selanjutnya dipermentasi untuk menghasilkan aroma kopi khas pegunungan enrekang. selanjutnya biji-biji kopi di jemur dan masuk lagi dipenggilingan untuk menghasilkan green ben kopi yang siap sangrai.
Biji kopi petik Merah
Biji kopi yang telah siap sangrai di jual dengan harga yang bervariasi , biji kopi kualitas A di jual dengan harga Rp. 90.000 per kg, sedangkan asalan masih di jual dengan harga 50.000 rupiah per kg. pada tingkat petani, sedangkan pada tingkat pengumpul di enrekang di jual dengan harga antara 100.000 rupiah untuk kualitas Asalan  dan 150.000 per kg untuk kualitas A.
Dari penuturan petani kopi di hutan pinus wilayah adat marena, mengaku bahwa setiap tahun mereka bisa memanen kopi sebanyak 1.000 kg grenben per ha, sehingga jika di hitung dengan harga jual pada tingkat petani, mereka memperoleh pendapatan dari kebun Kopi sebesar antara Rp.50.000.000-Rp. 90.000.000 per tahun per ha.

Penjemuran biji kopi
Pendapatan petani kopi yang tinggi telah menginspirasi sebahagian besar masyarakat yang bermukim disekitar pegunungan desa pekaleboan, untuk terus mencari lahan di kaki gunung berbatu dan terjal hanya untuk ditanami kopi jenis arabika.
Bahkan dibawah bongkahan batu-batu besar pun masih ditemukan tanaman kopi yang ditanam oleh masyarakat di sana. Kegigihan petani kopi untuk terus membuka lahan tempat budidaya patut kita banggakan, namun juga patut prihatin, karena lahan-lahan yang mereka buka memiliki kemiringan 45 % bahkan 65 % masih di tanami kopi.
Pada daerah-daerah yang memiliki kemiringan di bawah  45 % mereka tanami bawang merah dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan  hidup sehari-hari, bahkan dari hasil tanaman bawang merah pun telah menambah pendapatan yang tidak sedikit dan hanya dalam waktu 56 hari mereka telah memanen tanaman bawang mereka.
Belajar dari pengalaman petani kopi di pegunungan enrekang, yang gigih ulet dan berani maka tidak ada salahnya petani-petani yang berada pulau sulawesi lainnya yang tinggal pada ketinggian 600 - 1000 mdpl untuk memulai membudidayakan berbagai jenis kopi terutama jenis kopi Arabika.
Semoga kopi yang berasal dari perkebunan rakyat, terutama kopi yang berasal dari wilayah hutan adat akan mampu bersaing di pasar dalam negeri dan internasional, sehingga masyarakat adat tidak lagi menjadi simbol kemiskinan, simbol tertinggal dan marginal untuk selalu diberdayakan. suatu saat nanti masyarakat adat akan menunjukan dirinya sebagai masyarakat adat yang maju dan berdaya saing.

Sekedar share, semoga bermanfaat....nttp://ekonomiberbagi.com/




Rabu, 18 Juli 2018

Mondau dalam konteks berbagi di masyarakat Tolaki Sulawesi Tenggara



Panen padi gogo

 http://ekonomiberbagi.com/

                  Mondau merupakan istilah yang di gunakan dalam masyarakat asli sulawesi tenggara khususnya pada suku Tolaki. Pengertian Mondau merupakan kegiatan berkebun yang di mulai dari proses penyiapan lahan  sampai masa panen, mereka biasanya menanam tanaman pangan seperti Padi ladang yang saat ini mulai menghilang digantikan oleh benih padi sawah lahan kering.
Kegiatan Mondau yang dimulai dari penyiapan lahan, pembersihan lahan, penanaman, penyiangan bahkan saat panenpun dikerjakan dengan cara gotong-royong atau saling berkontribusi tenaga kerja dalam satu kelompok kecil para petani pekebun yang lahannya berdekatan.

Kegiatan gotong royong seperti ini, merupakan salah satu budaya yang dilaksanakan secara turun-temurun bahkan sampai jaman now saat ini pada generasi tua. akan tetapi pada generasi mudanya kegiatan seperti ini mulai pelan-pelan menghilang dari kegiatan mereka, mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing yang banyak berhubungan dengan kegiatan di luar komunitas mereka.
Kegiatan generasi mudanya telah bergeser dari berkebun menjadi pekerja diberbagai tempat yang dapat dengan segera menghasilkan duit. mereka tidak lagi Mondau seperti orang-orang tua mereka yang setiap musim panen padi gogo, yang secara gotong royong mereka panen padi dilahan salah satu kerabatnya.
Kegiatan Mondau dengan cara gotong royong seperti dahulu dan sekarang di beberapa tempat masih di jumpai di daratan sulawesi tenggara , pada lahan-lahan mereka yang masih tersedia. akan tetapi cara mondau tidak lagi dengan berpindah-pindah dari satu kawasan hutan ke kawasan hutan lainnya yang masih tergolong Hutan negara. Mereka telah menetap mengolah lahannya sekalipun masih menggunakan sistem Mondau yang masih mereka anggap sebagai cara-cara "Berbagi ekonomi" bukan seperti pengertian " Share economy " yang sedang trend saat ini.
Mondau merupakan kegiatan berbagi tenaga, berbagi pengetahuan dan berbagi manfaat saat panen hasil kebun mereka secara langsung. konsep berbagi bagi mereka bukan menunggu aplikasi, tetapi secara langsung dan secara kekeluargaan.
Konsep berbagi seperti ini mungkin akan segera punah dari peradaban masyarakat suku Tolaki, jika generasi tua tidak lagi dapat menurunkan secara benar kepada generasi mudanya yang cenderung menganut paham ekonomi liberal , dan praktis. Kecenderungan generasi mudanya saat ini adalah Instan, hari ini bekerja hari ini dapat uang, mereka tidak lagi melihat proses dan belajar dari proses yang dilakukan oleh generasi tua mereka.
Generasi tua di anggap ketinggalan jaman, dan generasi muda mengikuti Jaman menurut mereka. Tanpa mereka sadari bahwa kearifan-kearifan lokal ini sebentar lagi menghilang dari peradaban masyakarat suku tolaki yang terkenal suka bergotong royong dalam kehidupan mereka.
hari ini bahkan bahasa-bahasa lokal mereka telah mulai ditinggalkan oleh generasi mudanya, yang cenderung merasa canggung menggunakan bahasa daerah pada pertemuan-pertemuan non formal.

Semoga generasi muda masyarakat suku Tolaki saat ini dan masa yang akan datang masih dapat menggunakan sebahagian tradisi-tradisi dan budaya mondau yang merupakan cara Ekonomi berbagi yang sedang trend dewasa ini.



Sekedar share, semoga bermanfaat

Jumat, 13 Juli 2018

Potensi Kelapa yang terabaikan

            
Memasuki perbatasan kabupaten Sorong-Tambrauw di provinsi Papua Barat, pohon-pohon kelapa menjulang tinggi seakan memanggil sang petaninya untuk datang memanennya. Di distrik Sausafor sebagai ibukota sementara kabupaten Tambrauw, pohon-pohon kelapa berderet dikiri kanan jalan, dan di kompleks perkantoran tampak tunggak-tunggak kelapa masih tersisa menandakan bahwa kompleks ini awalnya merupakan kebun-kebun kelapa milik masyarakat distrik Sausafor. 
demikian pula potensi buah kelapa di kampung Hopmare, seakan tidak memiliki nilai, dibawah pohon kelapa, buah kelapa dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya, bahkan banyak ditemukan telah tumbuh dan membentuk pohon kelapa. beberapa alasan beberapa pemilik pohon kelapa membiarkan buah kelapa bertebaran di bawah pohon, kelapa mereka adalah Harga jual buah kelapa yang ada di kampung hopmare sangatlah rendah....

Wisata Pantai di laut Pasifik yang menggiurkan dan menghawatirkan




               Hampir sebahagian besar pesisir pantai di Sorong Raya, bahagian utara memiliki pemandangan indah nan menakjubkan bagi penggemar wisata, betapa tidak, hamparan pasir yang memanjang dari distrik Kwoor sampai dengan Werur, mengingatkan kita akan pantai Sanur yang indah nan menawan di pulau bali.  Pantai ini berada di kabupaten Tambrauw pemekaran dari kabupaten Sorong, keindahan pantai pasir yang mengandung pasir besi, telah menambah daya tarik bagi investor untuk melakukan penambangan pasir besi di sana. Hamparan pasir besi dari distrik Kwoor sampai dengan kampung Hopmare panjangnya kira-kira 15 Km, yang merupakan potensi wisata pantai yang menarik bagi para pelancong domestik dan internasional.
Keberadaan pantai pasir ini telah diketahui oleh banyak pihak, yang telah berkunjung di sana sayangnya fasilitas penunjang kepariwisataan khususnya di distrik Kwoor belum ada, di tambah lagi akses jalan dan sarana transportasi dari dan menuju ke lokasi wisata pantai di distrik Kwoor belum memadai, dan bagi pelancong domestik dan internasional belum memperoleh informasi secara detail keberadaan pantai ini.
Pantai ini berhadapan langsung dengan laut Pasifik di utara provinsi Papua Barat, sekaligus sebagai benteng terakhir perbatasan Indonesia dengan negara-negara Pasifik, hamparan pasir besi ini menjadi tempat bertelurnya penyu belimbing dan burung maleo yang sering di temukan oleh warga masyarakat yang bermukim di daerah pesisir seperti kampung Hopmare, di distrik Kwoor kabupaten Tambrauw.
Keberadaan penyu dan burung maleo dipesisir pantai ini sering kali mendapat gangguan dari masyarakat setempat, yang memungkinkan semakin berkurangnya populasi mereka. bahkan terancam punah dari bumi Tambrauw.
Untuk mencegah kepunahan kedua jenis satwa ini, maka upaya penangkaran dan sosialisasi kepada masyarakat pesisir perlu dilakukan oleh pemerintah setempat, dan para pihak pemerhati satwa-satwa endemik agar tidak membunuh penyu dan merampas telur burung maleo yang sering bertelur di pesisir pantai.
Ancaman lain yang paling membahayakan keberadaan satwa ini, adalah potensi pasir besi yang membuka peluang bagi investor untuk memanfaatkan sebagai bahan baku pabrik Besi baik yang ada di Indonesia maupun untuk memenuhi kebutuhan pabrik di Negara lain.
Potensi ancaman ini, bukan hanya untuk satwa saja, namun masyarakat pesisir pun akan terancam keberadaan tempat tinggal mereka. Dampak lain yang akan terjadi adalah kerusakan lingkungan yang menyebabkan  pencemaran laut, yang akan mengganggu biota laut yang ada disekitar laut pasifik.